Kembali ke Posts
10 Juli 2026

Estafet Perjuangan: Dari Finalis Nasional Menjadi Juri LKS Kota Dan Mentor Juara Provinsi

Kisah perjalanan pasca kelulusan di mana fokus saya terbagi antara membangun startup Nocsphere, menjadi juri LKS tingkat kota, hingga membimbing adik kelas menembus podium juara provinsi.

Setelah menyelesaikan masa sekolah, kesibukan saya tidak lantas mereda. Di tengah fokus dan tenaga yang terkuras untuk membangun startup Nocsphere sendirian, saya mendapatkan sebuah tanggung jawab baru yang tidak kalah menantang: kembali ke arena LKS (Lomba Kompetensi Siswa), namun kali ini bukan sebagai peserta di balik layar komputer, melainkan sebagai Juri dan Mentor.

1. Menjadi Juri LKS Tingkat Kota Metro

Kehormatan besar bagi saya ketika dipercaya untuk merumuskan soal sekaligus menjadi juri pada ajang LKS Cloud Computing Tingkat Kota Metro. Berbekal pengalaman bertanding hingga tingkat nasional, saya menyusun modul soal yang menantang namun tetap relevan dengan kebutuhan industri saat ini.

Soal dan skenario arsitektur cloud yang saya rancang untuk kompetisi ini dapat diakses secara publik melalui repositori GitHub saya di: lks_cloud_kota.

Melihat jalannya kompetisi dari sudut pandang seorang juri memberikan saya perspektif baru. Saya menyadari bahwa menguji dan menilai kemampuan teknis orang lain membutuhkan ketelitian yang luar biasa, sama beratnya dengan saat kita mengeksekusi modul itu sendiri di bawah tekanan waktu kompetisi.

2. Reverse Engineering Soal LKS Provinsi & Membimbing Juara

Selain bertugas di tingkat kota, tantangan besar berikutnya adalah membimbing adik kelas yang akan bertanding di tingkat provinsi Lampung. Salah satu kendala utama yang sering dihadapi peserta adalah minimnya kejelasan informasi; saat itu, kisi-kisi resmi yang diberikan hanya berupa dokumen PDF yang sangat kurang jelas dan sulit untuk langsung dipraktikkan.

Melihat kondisi tersebut, saya memutuskan untuk melakukan reverse engineering terhadap kisi-kisi LKS tingkat provinsi tersebut. Saya membedah setiap poin kebutuhan arsitektur yang abu-abu, menganalisis jalurnya, lalu menyusunnya kembali ke dalam bentuk modul soal riil yang fungsional dan siap dikerjakan untuk latihan intensif.

Seluruh hasil rekonstruksi soal dan dokumentasi reverse engineering ini saya bagikan secara terbuka di GitHub agar bisa dipelajari oleh siapa saja: re_engineering_lksProv.

Berkat metode latihan yang terarah menggunakan modul hasil rekonstruksi ini, proses transfer ilmu menjadi jauh lebih efektif. Kerja keras tersebut akhirnya terbayar lunas ketika adik kelas yang saya bimbing berhasil membawa pulang Juara 3 LKS Cloud Computing Tingkat Provinsi.

Momen kebahagiaan dan apresiasi atas pencapaian ini didokumentasikan langsung melalui unggahan resmi di Instagram: Dokumentasi Juara LKS Provinsi.

3. Seni Membagi Waktu dan Tawaran Mengajar di Sumatra Selatan

Jujur saja, menjalani rutinitas ini sangat melelahkan. Pikiran saya harus terbagi secara intens antara memikirkan arsitektur dan baris kode startup billing MikroTik saya, Nocsphere, dengan tanggung jawab mengajar serta membimbing.

Cerita mengajar ini sebenarnya berawal ketika salah satu guru dari sekolah asal saya meminta bantuan langsung kepada saya. Beliau meminta saya untuk melatih seorang guru dari SMK Muhammadiyah 1 Sukaraja, Sumatra Selatan, yang sedang bertugas untuk mencari sekaligus mempersiapkan talenta LKS di sekolahnya. Saya diminta mengajari guru tersebut materi AWS menggunakan modul soal kompetisi yang saya susun dan buat sendiri.

Di sela-sela kesibukan saya melatih guru dari sekolah tersebut dan membimbing adik kelas untuk persiapan lomba, pihak SMK Muhammadiyah 1 Sukaraja rupanya melihat potensi, kepintaran, serta efektivitas saya dalam mentransfer ilmu. Melalui interaksi itu, mereka kemudian memberikan tawaran kerja yang cukup mengejutkan: meminta saya untuk menjadi guru tetap bagi siswa-siswi di sana guna mempersiapkan mereka secara langsung menghadapi ajang LKS tahun depan.

Namun, setelah merenung dan mempertimbangkan matang-matang, tawaran kerja tersebut akhirnya saya tolak secara baik-baik. Alasan utamanya sangat sederhana: mimpi saya masih terlalu tinggi.

Di usia yang masih sangat muda ini, saya merasa perjalanan saya baru saja dimulai. Masih banyak mimpi besar yang ingin saya kejar terlebih dahulu, mulai dari membesarkan startup Nocsphere agar bisa rilis penuh, terus mengeksplorasi arsitektur sistem berskala besar, hingga mempersiapkan diri untuk melompat ke jenjang karier dan pendidikan yang jauh lebih tinggi lagi. Saya tidak ingin cepat merasa puas atau menetap di zona nyaman terlalu dini ketika dunia teknologi yang luas ini masih menunggu untuk saya taklukkan.

Menerima panggilan dan kepercayaan tersebut adalah sebuah kehormatan yang luar biasa, namun menolaknya demi menjaga api ambisi tetap menyala adalah keputusan terbaik yang harus saya ambil. Langkah saya masih panjang, dan saya memilih untuk terus mendaki menuju puncak mimpi-mimpi saya.