Menembus Batas di Panggung Nasional: Perjalanan LKS Cloud Computing 2025
Kisah perjuangan mewakili Provinsi Lampung dalam kompetisi LKS Nasional bidang Cloud Computing di Jakarta. Sebuah refleksi tentang kerja keras, mentalitas, dan proses belajar yang tiada henti.
Kompetisi LKS (Lomba Kompetensi Siswa) bukan sekadar ajang unjuk keahlian teknis, melainkan sebuah perjalanan pembentukan mental. Menjadi perwakilan Provinsi Lampung di tingkat nasional untuk bidang Cloud Computing di Jakarta adalah salah satu titik balik terbesar dalam perjalanan akademis dan profesional saya.
Berikut adalah catatan perjalanan, tantangan, dan refleksi berharga yang saya dapatkan selama proses tersebut.
1. Awal Perjuangan: Meniti Jalan Tanpa Mentor
Perjalanan ini dimulai sejak masa transisi kenaikan kelas 11 menuju kelas 12 SMK. Di saat rekan-rekan yang lain menikmati waktu liburan sekolah, saya memilih untuk mendedikasikan waktu sepenuhnya di laboratorium untuk mempersiapkan diri menghadapi seleksi tingkat provinsi.
Tantangan terbesar di awal adalah keterbatasan bimbingan. Bidang Cloud Computing merupakan disiplin ilmu yang relatif baru di tingkat menengah, sehingga sangat sulit untuk menemukan mentor khusus. Saya memulai semuanya secara autodidak melalui dokumentasi tertulis dan video pembelajaran di platform YouTube.
Menyadari perlunya bimbingan yang lebih terstruktur dan intensif, saya akhirnya memutuskan untuk mengikuti program pelatihan khusus di FR Academy (CV. FR-System). Meskipun lembaga ini berfokus pada pengembangan perangkat lunak (software development), mereka membuka ruang bagi saya untuk memperdalam arsitektur cloud. Di sinilah dedikasi saya diuji dengan jadwal latihan yang sangat padat, sering kali dimulai dari pukul 08.00 WIB hingga dini hari demi mengejar ketertinggalan materi.
Di masa persiapan tingkat provinsi ini, saya berjuang bersama rekan-rekan seperjuangan: Tomi, Albin, Riok, Djeliyus, Tian, Zaidan, dan Fairuz.
2. Dominasi di Tingkat Provinsi
Kerja keras tersebut terbayar lunas saat LKS Tingkat Provinsi dimulai. Berbekal persiapan matang, saya berhasil menyelesaikan seluruh modul ujian hanya dalam waktu setengah hari, sementara peserta lain masih berjuang hingga batas akhir waktu di sore hari.
Momen ketika nama saya diumumkan sebagai Juara 1 LKS Cloud Computing Tingkat Provinsi Lampung adalah momen yang sangat emosional. Target pribadi yang pernah saya canangkan akhirnya terwujud: saya resmi memegang tiket menuju LKS Tingkat Nasional di Jakarta.
3. 22 Hari Menuju Jakarta: Ujian Mentalitas
Tantangan sesungguhnya baru saja dimulai ketika saya mendapat kabar bahwa kompetisi tingkat nasional akan diselenggarakan dalam waktu 22 hari setelah tingkat provinsi berakhir. Di saat peserta dari provinsi lain memiliki waktu persiapan ideal selama 2 hingga 3 bulan, saya harus berpacu dengan waktu yang sangat terbatas.
Saya kembali memilih FR Academy untuk memperdalam kesiapan teknis. Namun, berjuang sendirian di tingkat nasional tanpa kehadiran rekan-rekan seperjuangan dari daerah sempat membuat motivasi saya goyah. Di tengah rasa jenuh dan kelelahan fisik, sebuah nasihat penting dari keluarga menyadarkan saya:
"Sudah melangkah sejauh ini membawa nama provinsi, masa hanya ingin pulang membawa sertifikat finalis?"
Kata-kata tersebut memicu kembali api semangat saya untuk terus menekan batas kemampuan hingga hari keberangkatan tiba.
4. Panggung Nasional: PPSDM Jakarta
Setibanya di Jakarta, kompetisi dilaksanakan di PPSDM, sebuah pusat pelatihan teknologi yang representatif. Di sana, saya bergabung dengan delegasi Lampung lainnya yang berjuang di berbagai bidang, seperti Ridho, Nyoman, Ikbal, Alforta, Julian, Zatar, dan Azni.
Kompetisi berlangsung selama 2 hari berturut-turut, mulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIB setiap harinya dengan ritme yang sangat intens.
Hari Pertama: Kejutan Standar Internasional
Ketika soal dibuka, tingkat kesulitan yang disajikan berada di luar ekspektasi, lks nasional menggunakan standar kompetisi internasional dan mengadopsi pembaruan teknologi terkini yang sangat berbeda dari tahun sebelumnya. Menyelesaikan modul dengan hasil yang kurang maksimal di hari pertama sempat membuat saya tertekan, namun menyadari bahwa peserta lain juga merasakan tekanan yang sama membuat saya kembali fokus pada hari berikutnya.
Hari Kedua: Menghadapi Kebuntuan (Blunder)
Hari kedua menyajikan skenario arsitektur cloud yang rumit tanpa panduan dokumentasi yang spesifik. Kami dituntut untuk menganalisis fungsi instrumen secara mandiri. Di tengah kebuntuan teknis yang hampir mematahkan semangat, saya mencoba tetap tenang, mengevaluasi kesalahan, dan mempersiapkan strategi untuk hari terakhir.
Rekonsiliasi dan Penyelesaian
Di hari penentuan, fokus saya sepenuhnya beralih dari ambisi kemenangan menjadi upaya memberikan performa terbaik dan menyelesaikan sebanyak mungkin parameter penilaian yang tersedia. Hari ketiga memiliki bobot poin tertinggi, dan saya bersyukur dapat menuntaskan modul-modul krusial terlepas dari minimnya waktu persiapan yang saya miliki dibanding kompetitor lainnya.
5. Refleksi dan Langkah ke Depan
Pada malam penganugerahan, saya harus berpuas diri dengan status sebagai Finalis Nasional. Meskipun belum berhasil membawa pulang medali atau Medal of Excellence (MoE) seperti beberapa rekan delegasi Lampung lainnya, pengalaman ini memberikan pelajaran berharga yang tidak dapat dinilai dengan angka.
Menghadapi kompetitor terbaik dari seluruh penjuru negeri dengan persiapan hanya 22 hari mengajarkan saya tentang arti resiliensi, adaptabilitas di bawah tekanan tinggi, dan pentingnya evaluasi diri secara objektif.
Saya sangat bersyukur atas kesempatan berharga ini—mulai dari pengalaman perdana melakukan perjalanan udara, bertemu dengan para juri profesional di industri cloud, hingga memperluas jaringan pertemanan di tingkat nasional. Kegagalan hari ini bukanlah akhir, melainkan fondasi kokoh untuk kesuksesan di masa mendatang. Jika kesempatan itu datang kembali, saya memastikan akan kembali dengan versi yang jauh lebih siap dan kuat.
Dokumentasi Perjalanan
Kebersamaan hangat saat makan bersama delegasi LKS Lampung di PPSDM.
Momen berharga berfoto bersama para praktisi dan juri Cloud Computing nasional.
Perjalanan udara pertama menuju Jakarta membawa nama Provinsi Lampung.